Tampilkan postingan dengan label Kekuasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekuasaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 April 2010

Machu Picchu dan Resolusi Dieng

Dua tokoh perempuan beda generasi bertutur soal isu penyelamatan lingkungan. Seorang Poppy Susanti Dharsono (58) mencemaskan efek penggurunan dengan contoh dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Seorang lainnya, yaitu Inayah Wulandari (27), menandaskan secara politis mengutip almarhum ayahnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu ”sekalipun negara berdaulat jika tidak memerhatikan lingkungan sama saja tidak berdaulat”.

Keduanya memang dikenal publik. Tetapi, bukan karena aktivitas pembelaan lingkungan mereka. Ketika mereka berbicara, ini menandakan bahwa kerusakan lingkungan sudah membuat gerah setiap orang, apa pun profesinya.

Poppy dikenal malang melintang dalam hal perancangan busana. Ia sekarang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2009-2014 daerah pemilihan Jawa Tengah. Pada Jumat (8/1) lalu ia menggelar konferensi pers sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik setelah menjalani masa reses ke Jawa Tengah, wilayah konstituennya, antara 11-31 Desember 2009.

Poppy meresahkan prediksi, 10 tahun ke depan dataran tinggi Dieng akan berubah menjadi gurun. Ia tidak langsung menukik pada persoalan penghutanan kembali Dieng. Tetapi, meminta pemerintah agar segera merevitalisasi bangunan-bangunan arkais peninggalan Mataram Hindu di Dieng. ”Pemerintah harus menengok Machu Picchu (kota Inca yang hilang) di Peru,” ujar Poppy.

Machu Picchu, tatanan kota arkais peninggalan suku Inca di Peru yang kini menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia yang baru.

”Tidak mustahil banyaknya candi Hindu di Dieng menjadi pesona wisata masa lalu, seperti Machu Picchu. Candi-candi itu peninggalan wangsa Syailendra abad VIII. Itu berpotensi menjadi ’Machu Picchu’-nya Indonesia,” kata Poppy.

Charlie Chaplin singgah

Revitalisasi tempat bersejarah di Dieng diharapkan bisa memberikan pendapatan baru dari sektor pariwisata. Ekonomi masyarakat setempat diharapkan membaik. Lalu, masyarakat tidak lagi bertumpu pada hidup bercocok tanam di lahan yang semestinya dijaga sebagai hutan. ”Pada tahun 1920-an Charlie Chaplin (1889-1997) pernah singgah ke Dieng. Tentunya Dieng dulu sangat indah,” ujar Poppy.

Memulihkan hutan dan merevitalisasi potensi keekonomian lainnya yang bersifat otentik lokal dan unik, menurut Poppy, pada akhirnya akan menunjang daya saing pada era perdagangan bebas di negara-negara ASEAN-China seperti sekarang.

Berikutnya, Inayah. Ia hadir sebagai salah satu narasumber forum Pandangan Lingkungan 2010 (Environmental Outlook 2010) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta Media Center (JMC).

Kehadirannya sekaligus mewakili keluarga besar Gus Dur. Ia diundang untuk menyaksikan prosesi penobatan almarhum ayahnya sebagai pejuang penyelamat lingkungan oleh Walhi.

Pada kesempatan berbicara, Inayah tidak menyampaikan apa saja yang sudah dilakukan Gus Dur demi penyelamatan lingkungan. ”Kita bisa googling (mencari informasi dari situs internet) kalau ingin melihat kebijakan beliau semasa menjadi presiden,” ujar Inayah.

”Saya hendak menyampaikan hal-hal yang tidak pernah diketahui publik mengenai Gus Dur,” kata Inayah.

Dia mengutarakan, almarhum ayahnya memiliki perhatian terhadap keteraturan hal-hal kecil. ”Seperti ritual pagi setelah mandi, biasa memakai obat ketek sebelum menyisir rambut. Ketika ada ajudan yang keliru menyampaikan sisir dulu sebelum obat ketek, Gus Dur tidak akan menerima sisir itu. Gus Dur akan diam saja sampai diberikan obat ketek sesuai yang biasa dilakukan,” ujar Inayah.

Berangkat dari keteraturan hal-hal kecil, Gus Dur memegang prinsip-prinsip hal besar, seperti mengenai kedaulatan suatu bangsa. Negara berdaulat yang tak mampu memerhatikan isu lingkungannya sama saja tak berdaulat.

Resolusi 2010

Isu melawan fenomena penggurunan dilontarkan Poppy. Isu menegakkan kedaulatan bangsa dengan memerhatikan lingkungan disampaikan Inayah. Kedua hal itu segaris dengan resolusi 2010 yang ingin dikejar Walhi, yaitu revolusi ekologi.

Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Forqan menyampaikan, revolusi ekologi untuk mewujudkan keadilan ekologi, reformasi agraria sejati, dan industrialisasi nasional. Revolusi ekologi untuk menghadang kepentingan segelintir pemilik modal yang mengeruk sumber daya alam kita dan merusak lingkungannya.

Seperti berlangsung di Dieng sekarang. Keadilan ekologi sulit terwujud akibat reformasi agraria sejati tidak berlangsung. Lahan petani

tidak ditopang tata ruang yang tegas. Lahan petani kian tergusur. Petani terpaksa mendobrak tatanan ekologi, seperti menciutkan, bahkan membabat habis hutan yang ada sebagai pengganti sawah-ladang mereka.

Penggurunan di Dieng mengundang gagasan menghadirkan ”Machu Picchu” Indonesia melalui tatanan candi kuno yang tersisa dari Kerajaan Mataram Hindu abad VIII nan eksotis. Tujuan akhirnya sama dengan revolusi ekologi, yaitu menyelamatkan lingkungan Dieng yang kian merana.

Mampukah pemerintah mencernanya?

Selasa, 20 April 2010

15 Situs Kubur Batu Ditemukan

Sedikitnya ada 15 kuburan batu telah ditemukan di Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan (Sumsel) yang lokasinya tersebar di lima kecamatan.


Informasi dari lokasi penemuan kubur batu itu, Senin, menyebutkan, rincian lokasi penemuan rumah batu tersebut antara lain dua berada di Kecamatan Pagaralam Utara, dua di Kecamatan Dempo Utara, dan satu di Kecamatan Dempo Tengah wilayah Kota Pagaralam.

Kemudian untuk wilayah Lahat, yaitu tujuh di Kecamatan Pajarbulan, satu di Kecamatan Jarai, dan dua kubur batu di Desa Talang Pagar Agung, Kecamatan Pajarbulan.

Penemuan kuburan batu itu, menurut informasi warga setempat banyak terjadi antara lain melalui proses mimpi, sehingga setelah itu dilakukan penggalian yang dilakukan penduduk setempat.

Aset cagar budaya ini semuanya masih belum dikelola pemerintah, dan penduduk setempat yang merupakan pemilik lahan penemuan bangunan bersejarah tersebut.

"Untuk saat ini semua kuburan batu yang sudah ditemukan langsung dilakukan penelitian dan pendataan untuk mengetahui dengan pasti jenis cagar budaya tersebut," kata Akhmad Rifai, petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) dengan wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel.

Dia mengatakan, memang ada beberapa jenis peninggalan purbakala yang sudah ditemukan di wilayah Pagaralam dan Lahat, yaitu megalit, kuburan batu, tempayan, arca, lumpang batu, dan beberpa jenis benda bersejarah diperkirakan berusia ratusan hingga ribuan tahun lalu.

"Kami sudah melakukan pendataan penemuan kuburan batu, seperti di Dusun Tanjung Aro 2, Dusun Tegurwangi 2, Dusun Belumai 1 untuk Pagaralam, sedangkan wilayah Lahat di Desa Kota Raya Lembak 7, Desa Gunung Megang 1," ujar dia.

Akhmad mengatakan, setelah dilakukan pendataan semua cagar budaya tersebut langsung dilindungi BP3 Jambi dan langsung mengangkat juru kunci sebagai petugas pemeliharaannya.

"Sedangkan untuk kuburan batu atau situs yang ditemukan di Desa Talang Pagaragung, Kecamatan Pajarbulan belum dimasukkan dalam salah satu benda bersejarah yang harus dilindungi karena baru ditemukan dan masih dalam proses penelitian tim dari arkeologi BP3 Jambi," katanya.

Ia mengatakan, penelitian hanya bersifat menentukan umur, masa dan jenis-jenis benda yang terdapat di dalam bangunan tersebut saat dilakukan penggalian.

"Kami sudah melakukan penelitian bentuk bangunan bukan tempat pemujaan atau langgar, tapi merupakan kuburan batu sama dengan yang sudah lebih dulu ditemukan di daerah lainnya, baik di Kota Pagaralam maupun wilayah Kabupaten Lahat," demikian Akhmad Rifai.

Senin, 12 April 2010

Dinosaurus Berwarna Cerah dan Ekornya Belang

Penemuan fosil dinosaurus sejak lama menyedot perhatian para ilmuwan dan menjadi obyek laboratorium hingga studio film. Sosok dinosaurus pun sering digambarkan segarang mungkin dengan warna-warna gelap. Padahal, warna tubuh dinosaurus sebenarnya mungkin tidak demikian.

Namun, jurnal Nature terbitan terbaru untuk pertama kalinya memublikasikan hasil penelitian yang berhasil mengungkap warna sebenarnya satu spesies dinosaurus. Hasilnya, dinosaurus itu bukan berwarna gelap, melainkan cerah antara coklat kemerahan dan kuning emas. Bahkan, artistik dengan warna ekornya yang belang-belang hitam.

Itulah warna sebenarnya Sinosauropteryx, jenis dinosaurus pemakan daging yang ukuran tubuhnya sebesar kalkun. Fosilnya ditemukan pada tahun 1996 di formasi Yixian, China, dari lapisan sedimen yang berusia 130-123 juta tahun. Penemuannya menarik perhatian karena di fosilnya terlihat bagian yang mirip bulu burung. Bentuk belang-belang juga sudah terlihat kasatmata di ekornya.

Hal tersebut sempat memicu perdebatan karena ada ilmuwan yang menduga bagian mirip bulu sebenarnya bekas kolagen dari ekornya. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa di sepanjang ekornya ditemukan melanosome, struktur subseluler yang membawa pigmen.

Melanosome selama ini hanya ditemukan di bulu burung dan tidak di bagian kolagen. Bulu burung mengandung eumelanin yang menghasilkan pigmen warna hitam dan abu-abu serta phaomelanin yang menghasilkan warna coklat kemerahan hingga kuning. Keduanya ternyata juga ditemukan di fosil Sinosauropteryx.

"Kedua tipe melanosome yang ditemukan dalam penelitian terakhir menunjukkan bukti empiris pertama untuk merekonstruksi warna dan pola warna dinosaurus dan fosil burung di China," tulis Fucheng Zhang dan koleganya dari Institut Paleontologi Vertebrata dalam jurnal ilmiahnya.

Temuan itu sekaligus menguatkan pendapat bahwa struktur mirip rambut tersebut mungkin protofeather (bulu purba). Selain itu, hasil penelitian ini juga mendukung pendapat bahwa Sinosauropteryx mungkin satu jalur keturunan dengan burung saat ini.

Kamis, 01 April 2010

Ribuan Jejak Dinosaurus Ditemukan di China

Lebih dari 3.000 jejak dinosaurus ditemukan di China. Demikian laporan dari media resmi China, Minggu (7/2/2010). Jejak dinosaurus tersebut ditemukan di kawasan yang disebut-sebut sebagai tempat terkaya akan tulang belulang binatang purba yang telah menjadi fosil. Jejak yang ditemukan diperkirakan berusia lebih dari 100 juta tahun.

Penemuan itu terjadi setelah dilakukan evakuasi selama tiga bulan di sebuah selokan di Zhucheng, sebelah timur Provinsi Shandong, demikian dituliskan kantor berita Xinhua. Jejak tersebut berukuran panjang 10 sentimeter-80 sentimeter dan berasal dari sekurangnya enam jenis dinosaurus yang berbeda, termasuk tyranosaurus.

Sabtu (6/2), seorang ahli dari Chinese Academy of Sciences, Wang Haijun, mengatakan, jejak-jejak tersebut menghadap ke arah yang sama. Ini mengindikasikan pergerakan migrasi yang menandai kepanikan dari dinosaurus pemakan tumbuhan ini yang diduga diserang kelompok hewan pemangsa (predator) dinosaurus.

Wang menambahkan, para ahli arkeologi telah menemukan fosil dinosaurus pada 30 situs di Zhucheng, yang dikenal sebagai Kota Dinosaurus. Di kawasan ini ada dua galian utama sejak tahun 1964. Di kawasan tersebut akan dibangun Taman Fosil.

Minggu, 28 Maret 2010

Sudah di Ujung Lidah tapi Lupa!

Sebal rasanya kalau tiba-tiba anda lupa suatu istilah, padahal rasanya sudah di ujung lidah tapi mendadak lupa. Suatu penelitian mempelajari hubungan antara fenomena kelupaan ini dengan tingkat keseringan pemakaian kata-kata tertentu. Temuan riset ini bisa membantu ilmuwan memahami cara otak kita mengatur dan mengingat bahasa.

Untuk mempelajari fenomena ini para peneliti mempelajari orang-orang yang fasih dalam dua bahasa dan juga orang-orang tuli yang berkomunikasi memakai bahasa isyarat sesuai standar Bahasa Isyarat America (ASL).

"Kami ingin melihat apakah orang-orang yang memakai bahasa isyarat bisa juga mengalami kelupaan mendadak itu," jelas Karen Emmorey, direktur dari Laboratorium Bahasa dan Ilmu Syaraf Kognitif di San Diego State University.

Emmorey dan para rekannya menemukan bahwa ternyata para pemakai bahasa isyarat juga kadang mengalami fenomena kelupaan mendadak itu, dan frekuensinya juga hampir sama dengan pemakai bahasa verbal biasa, yaitu kira-kira seminggu sekali.

Terlebih lagi, mirip dengan para pemakai bahasa verbal yang kadang lupa suatu istilah tapi kira-kira tahu huruf awalnya, para pemakai bahasa isyarat juga bisa lupa tapi kira-kira tahu sebagian gerakan untuk suatu istilah. Dan bila lupa, para pengisyarat itu lebih bisa mengingat-ingat bentuk tangan ketika menggerakkan suatu istilah, atau bagian tubuh mana yang dipakai untuk istilah itu dan arahnya, daripada mengingat gerakannya sendiri.

Emmorey memandang hal ini sebagai suatu kesamaan dengan para pembicara verbal, karena kedua grup ini sama-sama bisa mengingat suatu kata melalui awalannya. "Dalam bahasa ada suatu keistimewaan dalam awalan," tutur Emmorey.

Salah satu dugaan mengapa kita kadang lupa suatu istilah adalah karena mungkin di otak kita, pada saat bersamaan, muncul kata lain yang mirip bunyinya sehingga otak kita terhalang untuk mengingat kata yang dimaksud. Mekanisme ini disebut hambatan fonologis.

Untuk menguji teori ini, tim Emmorey membandingkan orang-orang yang bilingual dengan orang-orang yang bisa ASL dan juga Bahasa Inggris.

Suatu penelitian lain sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang-orang bilingual lebih sering mengalami fenomena lupa-di-ujung-lidah ini dibanding orang yang hanya fasih dalam satu bahasa. Para ahli menyimpulkan bahwa dengan penguasaan dua bahasa maka orang-orang bilingual juga dua kali lebih rentan untuk mengalami hambatan fonologis.

Kalau memang benar begitu, maka semustinya ini tak terjadi pada orang-orang yang bisa bahasa verbah (Inggris) dan juga bahasa isyarat ASL, karena semustinya kedua cara komunikasi itu tak saling 'bertabrakan', satunya mengandalkan bunyi sedangkan satu lagi gerakan. Tapi ternyata, dibandingkan orang-orang yang bilingual Inggris-Spanyol, orang-orang yang bisa Bahasa Inggris, dan ASL mengalami kelupaan di ujung lidah ini sama seringnya. Maka bisa dilihat bahwa dalam hal ini bukan hambatan fonologis biang masalahnya.

Jadi Emmorey kini mencurigai bahwa kelupaan ini adalah karena pemakaian yang kurang sering. Sederhananya, makin jarang suatu kata dipakai, maka makin sulit otak mengingatnya. Jadi misalnya orang tersebut bilingual Inggris-Indonesia maka kemungkinan separuh waktunya ia memakai Bahasa Inggris, dan separuh lagi memakai Bahasa Indonesia, jadi waktunya terbagi kalau dibanding dengan orang yang cuma berbahasa tunggal.

Tentunya ide ini harus diuji lebih lanjut dulu. Emmorey memaparkan hasil penelitiannya para pertemuan tahunan Asosiasi Pengembangan Ilmu Pengetahuan Amerika di San Diego, California, 19 Februari, 2010.

Senin, 22 Maret 2010

Komputer Ramah Lingkungan dngan Kristal Organik

Kristal ini berwarna merah-oranye dan memungkinkan diciptakannya perangkat elektronik yang lebih ramah lingkungan.

Beberapa jenis komputer bisa menyimpan informasi dengan memakai logam yang bersifat ferroelektrik, atau maksudnya logam itu bisa menciptakan kutub positif dan negatif ketika di tempatkan pada medan listrik. Tapi, biasanya logam yang dipakai adalah jenis yang langka atau beracun.

Kini, Sachio Horiouchi dari Institut Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Industri Tingkat Lanjut di Ibaraki, Jepang, bersama kolega-koleganya telah menemukan sifat ferroelektrik pada bahan kristal asam croconic, yang hanya mengandung karbon, oksigen, dan hidrogen.

Asam croconic ditemukan 170 tahun lalu, tapi baru dalam dekade terakhir ini bisa dikristalisasi. Ketika tim Horiuchi memberikan medan listrik pada kristal tersebut pada suhu ruangan, mereka bisa membalik kutub listriknya.

Akan tetapi para peneliti juga melihat bahwa masih ada keterlambatan antara waktu medan dihilangkan hingga polaritas kristal tersebut berbalik. Horiuchi mengatakan, ini biasa untuk ferroelektrik. Juga, ini adalah pertanda jelas akan adanya kemampuan untuk menyimpan dan mengubah polarisasi listrik. Temuan ini menyatakan bahwa asam croconic bisa berujung pada terciptanya alat-alat elektronik organik.

Marty Gregg dari Universitas Queen's, Belfast, UK, menyatakan, sebenarnya sudah ditemukan polimer organik lainnya yang juga memiliki sifat ferroelektrik, contohnya polyvinylidene fluoride (PVDF). "Tapi adanya sistem ferroelektrik organik selain PVDF cukup keren, karena membuka kemungkinan-kemungkinan lebih untuk segala macam peralatan organik."

Akan tetapi, ia juga mengingatkan bahwa hasil dari tim Horiuchi juga menunjukkan bahwa asam croconic mungkin terlalu lelet perubahan polaritasnya untuk digunakan sebagai RAM (Random Access Memory untuk komputer) yang bersifat ferroelektrik. "Tapi aku kira hasil temuan ini tetap akan disambut hangat."

Jumat, 12 Maret 2010

Proyek Bribin Lahirkan Tujuh Master Jerman

Proyek Bribin II yang telah berhasil mengangkat air dari sungai bawah tanah Goa Bribin di Semanu, Gunung Kidul lebih banyak dimanfaatkan sebagai wahana penelitian bagi orang asing. Proyek yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan dan Penelitian (BMBF) Jerman senilai 3,2 juta euro tersebut telah menghasilkan tujuh master atau lulusan S2 dari berbagai universitas di Jerman.

Padahal bendungan air bawah tanah pertama di dunia ini tidak hanya didanai oleh Pemerintah Jerman, tetapi juga oleh Pemerintah Indonesia. Meskipun peluang penelitian terbuka lebar, minat peneliti lokal masih rendah. Selain bertujuan memenuhi kebutuhan air bagi penduduk Gunung Kidul, menurut Wakil Tim Universitas Karlsruhe Jerman untuk Proyek Bribin II, Solichin, Proyek Bribin II ini memang ditujukan untuk demonstrasi penelitian.

"Hingga kini, peneliti-peneliti dari beragam universitas di Indonesia atau bahkan Yogyakarta masih belum memanfaatkan Proyek Bribin II untuk menimba ilmu pengetahuan baru. Kami membuka diri bagi siapa saja yang ingin turut meneliti di Bribin. Terutama tentang pengelolaan air di wilayah kars," ujar Solichin, Kamis (4//2/2010).

Studi tentang bendungan sungai bawah tanah di wilayah kars ini sudah dilirik oleh beberapa negara di Asia Tenggara. Vietnam dan Laos, misalnya, telah menyatakan minat untuk mengadopsi teknologi Proyek Bribin II untuk pembangunan bendungan serupa di kawasan perbukitan kars yang porositasnya tinggi.

Iswantoro dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yogyakarta juga menyayan gkan rendahnya minat peneliti Indonesia. Padahal, proyek pengangkatan air di Goa Bribin ini diawali riset yang dilakukan oleh BATAN sejak tahun 2002 dengan menggunakan zat radio aktif untuk mengetahui interkoneksi aliran air di dalam goa bawah tanah.

Menurut Iswantoro, peneliti lokal cenderung malas untuk meneliti sekaligus berpetualang di dalam goa bawah tanah. Mahasiswa dari Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir BATAN Yogyakarta juga sama sekali tidak terlibat dalam penelitian lanjutan di Bribin. "Saya melihat peneliti lokal masih malas dan ogah-ogahan. Padahal peluang terbuka," kata Iswantoro.

Kamis, 04 Maret 2010

F-111 Kobarkan Api di Ekornya

Meski merasakan dampak krisis ekonomi pada tahun 2009, industri kedirgantaraan dunia tetap optimistis. Salah satu buktinya adalah hadirnya perusahaan kedirgantaraan utama dunia, seperti Boeing, Airbus, Lockheed Martin, di Pameran Kedirgantaraan Singapura yang dibuka hari Selasa (2/2/2010) oleh Wakil Perdana Menteri Teo Chee Hean.

Meski raksasa penerbangan hadir, jumlah peserta - seperti diakui Jimmy Lau, Direktur Singapore Airshow kepada Show Daily - itu hanya 85 persen dari jumlah peserta tahun 2008. Kini jumlah peserta yang ikut pameran berjumlah 820, terbagi hampir sama antara perusahaan penerbangan sipil dan militer.

Boeing, pabrikan Amerika yang produknya malang-melintang di dunia, mengakui, tahun 2009 merupakan tahun paling buruk dari sisi bisnis sejak tahun 1971. Namun, bersama pesaing utamanya dari Eropa, Airbus, Boeing tetap hadir secara masif. Penerbangan perdana pesawat terbarunya, Boeing 787 Dreamliner Desember lalu, memberi tambahan keyakinan untuk menyongsong masa depan.

Dari sisi wilayah pemasaran, oleh para industrialis penerbangan Asia-Pasifik tetap diakui sebagai wilayah berprospek cerah. Tom Enders, CEO Airbus, bahkan menyebut kawasan ini kunci masa depan Airbus. Untuk tahun 2010, Airbus berharap bisa mengantongi 250-300 pesawat, kata Direktur Pemasaran Airbus John Leahy, seperti dikutip Singapore Airshow News kemarin.

Keyakinan mengenai Asia Pasifik bukan saja untuk pasar pesawat komersial, melainkan juga untuk pesawat militer. Angkatan udara negara-negara di kawasan ini dicatat masih terus memesan pesawat militer, baik jenis tempur, latih, maupun angkut, dari Jepang hingga Australia.

Melengkapi penjajakan di dalam gedung pameran, juga di chalet (tempat perusahaan peserta menerima tamu undangan), di langit terbuka diadakan demo penerbangan oleh pesawat militer dan helikopter.

Pesawat veteran Perang Teluk A-10 Thunderbolt, atu dijuluki Warthog yang dikenal sebagai pembunuh tank, tampil untuk pertama kali di arena Singapura. Dalam salah satu manuvernya diperlihatkan bagaimana ia menukik untuk memburu sasaran lapis baja dengan meriam Avenger raksasa di mulutnya.

Bintang pameran sendiri masih milik pesawat era Perang Vietnam milik AU Australia, yakni F-111. Jet pengebom taktis bersayap ayun ini, sebagaimana pada pameran tahun 2008, tampil dengan membakar bahan bakar yang ia buang sehingga menimbulkan kobaran api di arah ekornya. Karena Royal Australian Air Force akan memensiunkan jet yang sempat dijuluki Peti Mati Terbang ini, maka penampilan kali ini merupakan yang terakhir bagi F-111 di luar Australia.

Penerbangan hijau

Seiring menguatnya isu lingkungan, Selasa siang dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan IATA (Asosiasi Angkutan Udara Internasional).

Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar menyebutkan, Garuda Indonesia akan bekerja sama dengan IATA untuk sistem offset (penebusan) karbon. Nantinya, penumpang bisa memilih membayar kompensasi atas emisi karbon yang ditimbulkan penerbangannya. Seperti dijelaskan VP Corporate Communication Garuda Pujobroto pada siaran persnya, Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan Asia yang bergabung dalam program offset karbon ini.